Saat kita asik menyaksikan film, kadang kita lupa bahwa semua adegan sudah dirancang oleh sutradara. Apakah kita ingat saat membaca kitab suci, bahwa kisah Adam dan Hawa sudah dirancang oleh Tuhan?
Sebelum Adam diciptakan pun Tuhan sudah tahu bahwa Adam akan dikeluarkan dari surga. Tuhan juga tahu bahwa setan tidak akan sujud kepada Adam. Tuhan Maha Tahu, bukan?
Jika surga berada dalam dimensi keabadian, mengapa Tuhan menceritakan kisah Adam dan Hawa layaknya berada dalam dimensi waktu? Dalam dimensi keabadian, tidak ada dimensi waktu. Kalo masih ada waktu, berarti bukan alam keabadian.
Tuhan menceritakan dalam dimensi waktu adalah agar manusia lebih mudah memahaminya, terlebih manusia sebelum abad 21. Sehingga setiap manusia dapat memetik pelajaran dari kisah tersebut.
Lalu, apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Adam dan Hawa?
Untuk Adam dan Hawa, segala sesuatu sudah disediakan di surga kecuali satu yaitu buah khuldi. Kenapa Hawa masih meminta Buah Khuldi?
Setidaknya ada dua pelajaran yang bisa kita petik. Pertama adalah bahwa surga adalah tempat bagi orang yang ikhlas menerima apapun, menerima kenikmatan surgawi juga harus ikhlas.
Kedua, biarpun seisi surga telah diberikan kepada Adam dan Hawa, tapi masih saja meminta lebih. Itulah manusia yang memburu nafsu, surga pun takkan cukup memenuhi nafsunya.
Jika surga saja tak cukup memenuhi nafsu manusia, apalagi cuman planet bumi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar